<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Michael Hutagalung &#187; Society</title>
	<atom:link href="http://michaelhutagalung.com/tag/society/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://michaelhutagalung.com</link>
	<description>Founder of ColorLabs &#38; Company. WordPress Design and Development. Premium WordPress Themes Provider</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Jul 2011 06:20:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Cinta Lingkungan Salah Kaprah</title>
		<link>http://michaelhutagalung.com/2008/04/cinta-lingkungan-salah-kaprah/</link>
		<comments>http://michaelhutagalung.com/2008/04/cinta-lingkungan-salah-kaprah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 18:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>michaeljubel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinions and Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://michaelhutagalung.com/2008/04/cinta-lingkungan-salah-kaprah/</guid>
		<description><![CDATA[Stop global warming.
Say NO to plastic bags.
Save our rainforest.
Save the ozone layer.
Jargon dan tagline seperti demikian pastinya sudah sering Anda dengar akhir-akhir ini. Isu pemanasan global dan beberapa isu lingkungan lainnya semakin semarak di berbagai media dan secara umum menimbulkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Stop global warming.</em><br />
<em>Say NO to plastic bags.</em><br />
<em>Save our rainforest.</em><br />
<em>Save the ozone layer.</em></p>
<p>Jargon dan <em>tagline</em> seperti demikian pastinya sudah sering Anda dengar akhir-akhir ini. Isu pemanasan global dan beberapa isu lingkungan lainnya semakin semarak di berbagai media dan secara umum menimbulkan respon positif dari masyarakat. Sebagian besar masyarakat awam mulai mendapatkan pengertian yang lebih baik mengenai lingkungan, polusi, emisi, serta dampaknya yang berkelanjutan terhadap kehidupan manusia keseluruhan. Ada beberapa fenomena menarik yang terjadi berkaitan dengan <em>booming </em>isu-isu lingkungan ini; sebagian dari antaranya skeptik, unik, bahkan memalukan.<br />
<span id="more-171"></span></p>
<h3>Cinta lingkungan jadi trend gaul anak muda.</h3>
<p><em>To be honest</em>, kampanye cinta lingkungan memang suatu hal yang baik dan benar-benar terpuji. Kampanye tersebut kerap dikemas menjadi kampanye anak gaul sehingga membangun persepsi anak muda yang kira-kira disimpulkan dengan kalimat:</p>
<p><em>&#8220;Lo keren karena lo cinta lingkungan.&#8221;</em>. </p>
<p>Pastinya dunia ini akan menjadi lebih baik apabila dihuni oleh manusia-manusia yang peduli akan lingkungan. Tetapi, entah mengapa, sepertinya banyak orang/pihak yang sengaja mengejar <em>image </em>&#8216;cinta lingkungan&#8217; semata-mata hanya untuk terlihat keren, gaul, dan <em>up-to-date</em>. Saya agak tergelitik ketika melihat anak-anak ABG berjalan menyusuri <em>mall-mall</em> mengenakan baju distro yang menyuarakan kampanye cinta lingkungan. Sebagian dari diri saya berpikir positif dan merasa tergugah atas pesan mulia yang mereka sampaikan tapi entah mengapa pikiran skeptis saya menganggap mereka sebagai korban iklan dan melakukannya hanya atas dasar ikut-ikutan agar terlihat keren.</em></p>
<p>Saat ini, isu lingkungan menjadi <em>front-page</em> dan <em>headline</em> berbagai media termasuk majalah anak muda. Singkatnya, &#8216;cinta lingkungan&#8217; menjadi &#8216;<em>trend</em>&#8216; anak muda jaman sekarang. Sejarah membuktikan bahwa isu panas selalu berganti-ganti dan selalu naik-turun; itu berlaku untuk <em>fashion</em>, gossip, <em>marketing</em>, sains, teknologi, bahkan politik. <strong>Katakanlah dalam 3 tahun ke depan, &#8216;cinta lingkungan&#8217; tidak lagi menjadi <em>trend </em>gaul anak muda, apakah Anda tetap mencintai lingkungan? </strong> Saya yakin Anda akan menjawab &#8216;ya&#8217; dengan lantang; saya hanya ingin Anda mengingat jawaban itu untuk 3 tahun, 5 tahun, bahkan 50 tahun ke depan.</p>
<h3><em>Global warming</em> dengan teorinya yang cukup &#8216;unik&#8217;.</h3>
<p>Anda tidak tahu global warming? Berarti Anda ketinggalan zaman. Terminologi &#8216;<em>global warming</em>&#8216; dan <em>kroco-kroco</em>nya dapat dikategorikan sebagai frasa populer tahun ini. Bahkan &#8216;<em>carbon neutral</em>&#8216; &#8211; sebuah terminologi yang menjelaskan efek emisi karbon <em>overall</em> terhadap perubahan iklim &#8211; dinobatkan menjadi <a href="http://blog.oup.com/2006/11/carbon_neutral_/">Oxford Word of the Year 2006</a>. Saking populernya topik tersebut, sebuah band indie menamakan dirinya &#8216;<a href="http://www.liezmaya.web.id/band-efek-rumah-kaca/">Efek Rumah Kaca</a>&#8216;. </p>
<p>Berikut ini potongan lirik salah satu lagu mereka yang kebetulan juga berjudul &#8216;<strong>Efek Rumah Kaca</strong>&#8216;:<br />
<em>Tipis ozon berlubang<br />
Debu kosmik hujan asam<br />
Matahari tiada tirai<br />
Bakal bunga tak mekar</p>
<p>Kita akan terbakar…<br />
Diwariskan untuk anak dan cucu kita</em></p>
<p><img src='http://michael.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2008/04/global-warming-150x150.jpg' alt='global-warming.jpg' align="left" />Saya tidak bermaksud menyalahkan atau membenarkan keterhubungan istilah-istilah lingkungan yang terdapat dalam lirik tersebut. Atau membahas validitas hubungan sebab-akibat yang seharusnya tergambarkan secara benar antara lirik dan judul lagunya. Dalam lirik lagu, musik, dan seni, semuanya bisa dianggap sah-sah saja. Band tersebut bahkan cukup unik dalam setiap liriknya yang miring dan merupakan bentuk kritisi isu publik yang sedang terjadi seperti isu politik, lingkungan, dan bahkan kaum homoseksual. Namun, hal yang saya ingin garis bawahi ialah, seiring dengan populernya terminologi-terminologi lingkungan di masyarakat, perbedaan mendasar di antara masing-masing terminologi tersebut semakin <em>blur</em> dan bahkan muncul teori-teori aneh yang lebih cocok untuk dikategorikan sebagai gosip.</p>
<p><strong>A</strong>: <em>Global warming tuh apa sih?</em><br />
<strong>B</strong>: <em>Hmm.. jadi, ozon itu berlubang karena tingginya polusi industri, lalu karena ozon berlubang sinar matahari semakin banyak yang menembus ozon sehingga bumi memanas.. lalu turunlah hujan asam. Nah <em>global warming</em> deh..</em></p>
<p>Bahkan saya memiliki kutipan yang jauh lebih menarik:<br />
<strong>A</strong>: <em>Efek rumah kaca tuh apa ya??</em><br />
<strong>B</strong>: <em>Jadi di kota-kota besar kan semakin banyak gedung pencakar langit, nah pada umumnya mereka memiliki dinding luar yang terbuat dari kaca. Gedung-gedung itu dibangun sedemikian berdekatannya sehingga panas matahari saling terpantul dari satu gedung ke gedung lainnya. Akhirnya temperatur bumi meningkat karena peristiwa itu. Itulah efek rumah kaca.</em></p>
<p>Saya merasa <em>shock</em> penuh dilema; saya bingung saya harus terharu atau tertawa. Kedua kutipan tersebut diambil dari dua blog berbeda yang keduanya memasang banner bertemakan &#8216;cinta lingkungan&#8217; di sidebar-nya.</p>
<p>Saya bukannya merasa sok-pintar, tapi apakah sebegitu butanya kampanye &#8216;cinta lingkungan&#8217;? Apa memang ternyata pandangan saya benar bahwa banyak orang yang ikut serta mendukung kampanye &#8216;cinta lingkungan&#8217; atas dasar ikut-ikutan dan sayangnya tanpa pengertian yang memadai? <strong>Saya berharap mereka hanya sekedar kekurangan informasi yang tepat. Semoga mereka semua memang tulus ingin menjadikan bumi ini lebih baik.<br />
</strong></p>
<h3>Kampanye anti-plastik yang terkesan agak skeptis.</h3>
<p><img src='http://michael.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2008/04/anti-plastic-bag-150x150.jpg' alt='anti-plastic-bag.jpg' align="left" />Anda pernah mendengar <em>event Anti Plastic Bag Campaign</em>? Sebuah <em>event</em> yang mempopulerkan informasi tentang plastik sebagai produk kimia yang membutuhkan yang sangat lama untuk terdegradasi oleh alam sehingga apabila dikaitkan laju produksi plastik seperti sekarang ini, sudah dapat dipastikan limbah plastik akan menggunung di pembuangan akhir. Jonas, sebuah studio foto terkemuka di Bandung, mulai mempopulerkan kantong yang terbuat dari kertas sebagai pengganti kantong plastik untuk mendukung kampanye <em>global</em> mengenai isu lingkungan. Bahkan majalah Gogirl milik pacar dijual tanpa pelindung plastik dengan alasan majalah tersebut mendukung kampanye &#8216;cinta lingkungan&#8217; walaupun tiap halaman dalam majalah tersebut terbuat dari kertas yang juga mengandung plastik.</p>
<p>Pertanyaan mendasar yang harus dipikirkan ialah:<br />
<strong>&#8220;Apakah kita bisa hidup bebas dari plastik?&#8221;</strong><br />
Kertas majalah, casing <em>handphone</em>, botol Mizone, <em>keyboard laptop</em>, kemasan <em>eu de toilette</em> Benetton, piring adek bayi, pipa paralon, dashboard mobil, celana olahraga, jaket polyester, <em>debit card</em> Visa Mandiri, <em>member card</em> Blitz Megaplex, bahkan bagian <em>casing</em> plasma TV dan <em>home theater system.</em><br />
<strong>&#8220;Lo mo balik ke jaman batu?&#8221;</strong></p>
<p><em>Anti plastic bag campaign</em>, kampanye kantong kertas, dan pengurangan penggunaan plastik pada dasarnya merupakan cara yang baik. Tapi, jangan pernah lupakan kampanye &#8216;buanglah sampah di tempat sampah&#8217;, kampanye pemilahan sampah, kampanye daur ulang, dan kampanye positif lainnya yang lebih terbuka terhadap fakta yang sebenarnya ada.</p>
<h3>Bottomline.</h3>
<p>Dari pagi hingga malam hari dalam siklus kehidupan kita, kita sudah menyebabkan sedemikian besar kerusakan lingkungan: listrik rumah kita yang disuplai dari pembangkit listrik yang berbahan bakar batubara/gas alam yang tentunya mengemisikan CO<sub>2</sub>, kertas-kertas yang kita pakai yang mengurangi jumlah pohon di dunia sehingga siklus fotosintesis terganggu, produk-produk teknologi di sekitar kita yang banyak dibuat dari material kimia yang tidak <em>bio-degradable</em>, emisi karbon dan polutan lainnya yang keluar dari mobil pribadi kita, penggunaan deterjen dan keberadaan limbah perumahan yang mencemari air tanah, dan banyak lagi aktivitas sehari-hari yang merusak lingkungan tanpa kita sadari. <strong>Solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut ialah beraktivitas dengan penuh kesadaran yang tepat serta bertindak bijak dan bertanggungjawab.</strong></p>
<p>Lingkungan adalah tempat yang harus selalu kita jaga dan hargai, sekalipun itu sedang menjadi <em>trend</em> ataupun tidak. Lakukanlah itu dengan tulus dan bukan untuk hanya sekedar meningkatkan <em>image</em> atau untuk motivasi pribadi Anda. Bila Anda tulus mencintai lingkungan, jadilah duta lingkungan yang cerdas dan &#8216;berisi&#8217;. Tidak mungkin Anda menjadi duta lingkungan bila Anda sendiri tidak mengerti benar apa yang Anda sedang kampanyekan. Sadarilah ketergantungan kita akan teknologi dan carilah solusi implementatif yang terbuka terhadap fakta dan tidak hanya sekedar menyelesaikan masalah A namun menciptakan masalah B.</p>
<p>Untuk bumi yang kucinta.</p>
<img src="http://michaelhutagalung.com/?ak_action=api_record_view&id=171&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://michaelhutagalung.com/2008/04/cinta-lingkungan-salah-kaprah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitna: Pendewasaan Masyarakat Multikultur</title>
		<link>http://michaelhutagalung.com/2008/04/fitna-movie-pendewasaan-bagi-masyarakat-multikultur/</link>
		<comments>http://michaelhutagalung.com/2008/04/fitna-movie-pendewasaan-bagi-masyarakat-multikultur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Apr 2008 18:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>michaeljubel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinions and Thoughts]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Netherlands]]></category>
		<category><![CDATA[People]]></category>
		<category><![CDATA[Politics]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Society]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://michaelhutagalung.com/2008/04/fitna-movie-pendewasaan-bagi-masyarakat-multikultur/</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya berpikir 4 kali sebelum saya memutuskan untuk menulis tentang hal yang amat sensitif ini tapi entah mengapa saya terlalu tergelitik untuk tidak menuliskannya. Saya yakin Anda semua sudah mendengar film Fitna, sebuah film pendek yang dirilis di Internet ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya saya berpikir 4 kali sebelum saya memutuskan untuk menulis tentang hal yang amat sensitif ini tapi entah mengapa saya terlalu tergelitik untuk tidak menuliskannya. Saya yakin Anda semua sudah mendengar film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fitna_(film)">Fitna</a>, sebuah film pendek yang dirilis di Internet pada tanggal 27 Maret 2008 oleh sebuah politikus Belanda bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Geert_Wilders">Geert Wilders</a>. Film fenomenal ini didera berbagai kecaman dari negara-negara mayoritas Islam di seluruh dunia karena dianggap sebagai suatu film yang mendiskreditkan agama Islam. Berhubung saya dilahirkan sebagai seorang manusia yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, tentunya saya langsung mencari tahu kesana kemari apa sebenarnya yang dipaparkan dalam film itu yang sedemikian menjadi masalah besar di seluruh dunia. Tentunya itu semua dimulai dengan menonton film fenomenal itu terlebih dahulu. Oh ya, perlu Anda ketahui, saya adalah seorang Kristen.</p>
<p><em>Turn my laptop on, connect to the internet, access <a href="http://www.youtube.com">youtube.com</a>, put &#8220;fitna&#8221; in the search box, find hundreds of results, pick one, watch the clip, and I was shocked.</em><br />
<span id="more-167"></span><br />
<strong>Sepertinya terlalu pendek untuk dikategorikan sebagai film; sekalipun untuk kategori film pendek.</strong><br />
Itu merupakan kesan pertama saya saat menunggu video tersebut didownload. Film itu hanya memiliki durasi sekitar 10 menit. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk selalu menunggu hingga download selesai apabila saya sedang <em>streaming </em>dari YouTube. (Ya, walaupun itu menghilangkan esensi dari <em>streaming </em>itu sendiri.. :D) Pertama-tama saya merasa agak kurang yakin bagaimana film yang hanya berdurasi 10 menit bisa menggemparkan dunia, tapi ternyata anggapan saya berubah setelah menonton film tersebut.</p>
<p><strong>Pintar. Dia memang politikus sejati.</strong><br />
Film tersebut benar-benar memanfaatkan kekuatan dari gambar dan bahasa. Bahasa sendiri sudah merupakan alat yang sedemikian kuatnya dalam mempengaruhi manusia; bayangkan apabila bahasa itu dilengkapi dengan ilustrasi visual yang menurut pepatah tua dapat mengucapkan ribuan kata. Setiap <em>scene </em>dalam film Fitna merupakan potongan-potongan video singkat yang diselipkan oleh ayat-ayat Al-Quran yang seakan-akan menjadi alasan terjadinya kejadian-kejadian yang digambarkan dalam video-video singkat tersebut. Beberapa kejadian yang ditampilkan ialah peristiwa 9/11 World Trade Centre, peristiwa bom Madrid dan London, beberapa foto perang Timur Tengah, beberapa klip yang menggambarkan imam Muslim yang sedang berkhotbah, klip gadis kecil anti-Yahudi, pandangan agama Islam terhadap kaum gay dan lesbian, dan banyak potongan peristiwa lainnya yang tidak kalah hebohnya. Dengan alur dan plot seperti demikian, film tersebut akan membawa Anda pada sebuah kesimpulan akhir: <em>Islam sebagai sebuah agama yang mengajarkan kekerasan dan menjadi penyebab terorisme dunia yang marak dewasa ini</em>. Terlepas dari apakah video-video pendek itu rekaan atau tidak dan apakah terjemahan Al-Quran itu merupakan terjemahan yang benar atau tidak, itulah kesimpulan akhir yang saya tangkap; dan mungkin itu juga yang umumnya ditangkap oleh orang banyak. Itu menjelaskan mengapa film ini menjadi masalah besar di dunia multikultur ini.</p>
<p><strong>Mengutip ayat-ayat dari kitab suci yang tidak kita mengerti ialah sebuah kesalahan besar.</strong><br />
Siapakah Geert Wilders? Apakah dia seorang Muslim yang memiliki pendidikan agama yang sedemikian dalamnya hingga dia bisa menginterpretasikan ayat-ayat tersebut dengan cara seperti itu? Ataukah dia bukan seorang Muslim? Kalau memang dia bukan seorang Muslim, bagaimana bisa dia mengutip dan menerjemahkan ayat-ayat kitab suci yang pada dasarnya tidak dia mengerti? Belum lagi sifat ayat-ayat kitab suci yang sangat kontekstual dan saling terkait satu dengan lainnya. Menurut saya, dalam lingkup agama kita sendiri saja, kita tidak bisa semena-mena mengutip ayat ini dan ayat itu lalu merangkai-rangkaikannya tanpa pemahaman mendalam terlebih dahulu. Itu tentunya akan memberikan arti yang amat sangat berbeda. Nah, dalam lingkup agama sendiri saja sudah seperti itu; apalagi mengutip ayat-ayat kitab suci agama orang lain.</p>
<p><strong>Generalisasi dan <em>stereotyping </em>bukanlah sikap yang dewasa dan bijaksana.</strong><br />
Asumsikan saja bahwa teroris di seluruh dunia adalah benar beragama Islam. Lalu apakah karena itu kita bisa menggeneralisasi seluruh umat Islam sebagai teroris? Film Fitna memberikan pesan bahwa terorisme dunia disebabkan oleh keberadaan agama Islam dan sama sekali tidak mengarahkan pada kelompok tertentu yang kebetulan beragama Islam. Hal seperti demikian benar-benar suatu tindakan yang menyimpang dan hanya diungkapkan oleh manusia yang tidak memiliki kedewasaan berpikir. Kita bisa menuduh orang tertentu untuk bertanggung jawab atas suatu tindakan kriminal, tapi bukan berarti kita dapat serta-merta menuduh agamanya, rasnya, negaranya, atau apapun latar belakang sosial budaya yang dia miliki. Begitu juga dengan sang provokator, ini sepenuhnya hal yang menjadi tanggung jawab Wilders, dan bukan agamanya atau negaranya.</p>
<p>Film ini menimbulkan banyak reaksi keras di negara-negara dunia. Tidak hanya negara yang mayoritas beragama Islam, negara-negara Eropa tertentu juga menyatakan ketidaksetujuan mereka. Beberapa negara bahkan mengancam akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda apabila film tersebut dirilis lebih lanjut. <a href="http://www.liveleak.com">LiveLeak.com</a>, website tempat film ini pertama kali dirilis menerima berbagai teror dari orang tidak dikenal sebelum akhirnya <em>streaming </em>film Fitna dari situs tersebut dihentikan. Sebelum dihentikan, film tersebut tentunya sempat didownload banyak orang dan itu terbukti dengan tersedianya film tersebut di <a href="http://www.youtube.com">YouTube.com</a>. Pakistan sempat memblok akses ke YouTube.com selama 2 jam berkenaan dengan kasus ini. Terdapat beberapa kabar burung bahwa Indonesia juga akan melakukan hal yang sama walaupun ternyata hal itu tidak terjadi.</p>
<p><strong>Sayangnya, respon anarkis sempat terjadi di Medan, Indonesia</strong><br />
Emosi dan kemarahan adalah suatu respon yang wajar muncul bagi mereka yang merasa pihaknya dirugikan. Itu merupakan hal yang sangat manusiawi. Tapi, menurut saya, amat disayangkan apabila respon tersebut bermetamorfosis menjadi respon anarkis yang tidak bertanggung jawab. Konsulat Belanda di kota Medan sempat diserang oleh mahasiswa Medan sebagai respon atas keberadaan film Fitna ini. Sekarang, apakah salah bila orang awam yang mengetahui peristiwa penyerangan tersebut akhirnya menemukan poin kebenaran dari film ini? Menurut saya, tindakan anarkis hanya akan semakin memperbesar masalah, memperuncing konflik, dan semakin menambah alasan untuk membenarkan pesan film Fitna ini. <em>Islam sebagai agama kekerasan</em>; tentunya itu bukan hal yang kita semua inginkan.</p>
<p><strong>Pelecehan terhadap agama ialah suatu hal yang sebenarnya biasa.</strong><br />
Saya sama sekali tidak membenarkan keberadaan film ini <strike>dan saya amat setuju dengan tindakan penghentian penyebaran film ini dengan berbagai cara</strike>. <em>(Nampaknya praktek penghentian penyebaran film tersebut telah melewati batas logika. Mem-blok akses <a href="http://www.blogger.com">blogger.com</a> dan <a href="http://www.blogspot.com">blogspot.com</a> atas dasar <a href="http://repiisuper-disaster.blogspot.com/2008/04/postingan-kasar-penuh-amarah.html">kemungkinan adanya video FITNA dan film-film porno</a>? Idiots. Have you lost your mind?)</em> Tapi yang ingin saya garis bawahi ialah bahwa pelecehan terhadap agama ialah suatu hal yang sebenarnya biasa. Berbagai agama sudah sering dilecehkan di dunia ini dalam bentuk yang berbeda-beda; baik agama Kristen, Islam, Yahudi, dan agama-agama lainnya. Bahkan, kalau kita semua mau mebuka mata, banyak pihak yang saling melecehkan. Beberapa pelecehan dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan juga oleh pihak-pihak tertentu yang secara sengaja melakukannya sebagai bentuk pembenaran terhadap agamanya sendiri. Saya sering melihat buku-buku yang mengungkapkan fakta ini dan fakta itu yang di dalamnya terdapat tulisan yang menjelek-jelekkan agama seberang. Di dunia maya, hal tersebut bahkan semakin biasa. Anda dapat dengan mudah mencari blog-blog orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang sangat taat beragama dan sedang bercerita tentang keburukan-keburukan agama seberang dan kemudian memberikan antitesis dari pandangan agamanya. Dan tidak jarang, banyak ayat-ayat agama orang lain yang dikutip secara tidak bertanggung jawab lalu dikontraskan dengan fakta ini dan itu dan akhirnya menghasilkan kesimpulan akhir yang benar-benar mendiskreditkan agama seberang tersebut. Dan itu terjadi kepada semua agama. </p>
<p>Geert Wilders ialah salah seorang yang kebetulan beruntung dan karyanya dilihat oleh orang banyak. Dengan keadaan di mana pelecehan agama sudah menjadi hal yang umum, respon yang berlebihan sudah sepatutnya dihindari. Itu hanya akan menambah efek gaung dari penyebaran masalah itu sendiri. Pada akhirnya, tertawalah si Wilders karena pesannya tersampaikan dan dia menganggap dirinya berhasil. Dalam ilmu kimia, <em>ikatan kimia yang paling reaktif ialah ikatan  yang paling lemah</em>. Jangan sampai kita terlihat lemah karena adanya beberapa pihak yang tidak bisa mengendalikan emosinya dengan menimbulkan reaksi yang berlebihan dan kerap anarkis.</p>
<p><strong>Agama ialah sebuah benda yang sekarang sudah dipolitisasi.</strong><br />
Menurut saya, agama sudah menjadi alat politik yang sering digunakan banyak pihak di dunia. Sayangnya, banyak pihak-pihak yang kerap termakan oleh umpan tersebut. Isu agama kerap digunakan sebagai pengumpul kekuatan politik dan itu berlaku dalam kasus yang kecil hingga kasus yang amat besar. Indonesia? Saya yakin Anda cukup tahu dengan hal itu. Lihatlah kasus Israel-Palestina yang di negara kita (Indonesia) melebar menjadi kasus yang sama sekali bukan kasus antara Israel dan Palestina. Dari pihak seberang, Anda dapat melihat bagaimana sikap Amerika dan negara Eropa yang sedemikian hati-hatinya terhadap agama Islam dan juga negara yang mayoritas beragama Islam. Anda tahu tim olimpiade sains Indonesia pernah gagal mendapat visa masuk ke Amerika untuk ikut serta dalam olimpiade? Film Fitna menurut saya hanyalah suatu bentuk pengumpulan opini masyarakat yang pada akhirnya digunakan untuk kepentingan politik belaka. Saya pribadi memilih untuk tidak termakan oleh hal-hal seperti itu, dalam kasus apapun. Jangan sampai hal-hal yang lebih penting terpaksa dikorbankan karena termakan oleh masalah politisasi agama. Dan Anda perlu ketahui, bahwa politik tidak hanya berhubungan dengan negara; sadarilah politik yang terjadi di organisasi Anda, tempat kerja Anda, bahkan dalam hubungan pribadi Anda.</p>
<p><strong>Refleksi dan introspeksi diri. Bagi semua agama.</strong><br />
Menurut saya, alangkah baiknya apabila momentum ini dijadikan momentum refleksi dan introspeksi bagi semua pihak, bagi semua agama. Berhentilah saling menuduh dan jangan pernah memprovokasi orang lain. Di lain pihak, janganlah mudah terprovokasi tapi berpikirlah dengan pikiran yang matang dan dewasa. Hindarilah sikap yang menggeneralisasi kelompok besar hanya karena beberapa fakta-fakta kecil yang sebenernya sama sekali tidak mewakilkan karena itu hanya menimbulkan kebencian yang akhirnya menyebar dan menambah-nambah masalah yang sebenarnya tidak perlu ada. Jadikanlah keanekaragaman di antara kita sebagai suatu keindahan yang patut dipelihara dan bukan sebagai suatu hal yang harus dicari-cari siapa yang benar dan siapa yang salah; atau siapa yang benar dan siapa yang paling benar. Itu semua tidak ada gunanya. Semoga kita yang tinggal dalam masyarakat multikultur dapat semakin dewasa dalam pemikiran dan tingkah laku.</p>
<blockquote><p>Ilustrasi cover film Fitna diambil dari <a href="http://www.wikipedia.com">Wikipedia.com</a> dan hanya digunakan untuk keperluan identifikasi. Foto Geert Wilders diambil dari <a href="http://www.sherwintobing.com">SherwinTobing.com</a> dan <a href="http://www.nd.nl/">Nederlands Dagblad</a></a>.</p></blockquote>
<img src="http://michaelhutagalung.com/?ak_action=api_record_view&id=167&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://michaelhutagalung.com/2008/04/fitna-movie-pendewasaan-bagi-masyarakat-multikultur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic (Feed is rejected)
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 5/22 queries in 0.127 seconds using disk: basic
Object Caching 484/505 objects using disk: basic
Content Delivery Network via michael.lemuel.netdna-cdn.com

Served from: michaelhutagalung.com @ 2012-05-21 14:11:17 -->
